3/01/2013

Strategi Meningkatkan Prestasi Kerja

Posted by Jay Wyjaya on 07.04 with No comments
 Sebelum menjalankan strategi untuk meningkatkan prestasi kerja, pahami cara Anda melihat pekerjaan. Anda melihatnya sebagai pekerjaan, karier atau panggilan hati? Untuk mengenalinya, sederhana saja. Anda akan fokus pada gaji atau kompensasi kerja jika Anda melihatnya sebagai pekerjaan. Sementara, jika melihat pekerjaan sebagai karier, Anda fokus pada pencapaian, prestasi, jenjang karier dan jabatan. Kemudian, jika Anda melihat pekerjaan sebagai panggilan hati, Anda mengesampingkan persoalan uang, gaji, kompensasi lain dan juga jabatan. Fokus Anda adalah pada pekerjaan itu sendiri, yang begitu Anda nikmati.

Apapun perspektif Anda, jika masih merasa tak puas dengan prestasi kerja, lakukan strategi ini:

1. Menciptakan tantangan
Anda tak perlu menunggu kesempatan untuk menantang diri mencapai prestasi. Ciptakan tantangan untuk diri sendiri. Caranya, aktif melibatkan diri dalam sebuah proyek atau tugas yang bisa memotivasi diri lebih tinggi. Mulailah dari proyek kecil hingga yang berisiko tinggi. Mengerjakan sesuatu yang Anda sukai, apalagi jika berhasil, bisa menumbuhkan kepercayaan diri dan kepuasan kerja.

2. Membantu rekan kerja
Kesuksesan Anda tak lepas dari bantuan mentor. Kini, saat Anda berhasil menyelesaikan pekerjaan dengan baik, mulailah menjadi mentor bagi rekan kerja. Terutama kepada rekan kerja baru yang masih membutuhkan pengarahan. Membantu tim dalam bekerja takkan mengurangi keahlian Anda. Justru, sikap kerja seperti ini memberikan kepuasan dan kebanggaan tersendiri bagi diri Anda.

3. Jangan monoton
Rutinitas yang monoton membuat Anda bosan dan merasa tak tertantang. Jika hal ini yang Anda alami, segeralah bicara dengan atasan. Minta atasan melibatkan Anda dalam pekerjaan atau tugas lain. Jika perusahaan sedang menjalani proyek atau tugas baru, ajukan diri sebagai bagian dari tim. Menantang diri sendiri seperti ini membutuhkan keberanian, Anda berani?

4. Selalu positif
Berpikir positif menjadi senjata ampuh yang bikin Anda betah dengan pekerjaan. Melihat pekerjaan lebih positif akan membantu Anda meningkatkan performa. Saat Anda berpikir tengah terjebak dalam pekerjaan yang menyebalkan, saat itulah Anda kehilangan motivasi.

5. Tingkatkan skill
Semakin banyak keterampilan yang Anda punya, peluang kesuksesan dalam karier terbuka lebar. Jika mendapat kesempatan meningkatkan skill, jangan ragu memanfaatkannya. Seperti mengikuti kelas pengembangan diri, seminar, workshop apapun yang berkaitan dengan pekerjaan dan bisa meningkatkan performa kerja.

6. Belajar dari kesalahan
Jangan pernah memberi ruang bagi kegagalan untuk mengalahkan Anda. Ketika berbuat kesalahan dalam pekerjaan, segera belajar darinya, perbaiki dan jangan berhenti mencoba lagi. Mungkin saja, Anda sedang dipersiapkan untuk sukses dengan berbuat kesalahan tersebut.

7. Bersyukur
Kinerja di kantor tetap terjaga atau bahkan semakin meningkat dengan bersyukur. Sikap bersyukur seperti ini membantu Anda fokus pada nilai positif pekerjaan atau karier Anda. Caranya, tanyakan diri sendiri, apa saja yang membuat Anda bersyukur dalam pekerjaan setiap harinya. Setidaknya temukan satu saja hal yang Anda syukuri di kantor, setiap hari.

8. Menjaga passion
Anda berhak merasa tak puas dengan pekerjaan atau karier. Namun Anda juga mencoba realistis, karena untuk berpindah kerja, rasanya tak memungkinkan karena berbagai kondisi. Jika sudah seperti ini, Anda perlu memelihara passion di dalam diri atas karier atau pekerjaan. Cara lainnya, jalankan hobi atau aktivitas yang disenangi di luar kantor.

Lantas, apa pentingnya menjalani delapan strategi ini? penting, karena semakin Anda merasa puas dengan pekerjaan atau karier, semakin menurun tekanan di dalam diri. Anda pun terbebas dari stres bahkan depresi.
Sumber: Mayo Clinic

2/25/2013

Mengembangkan Mental Juara

Posted by Jay Wyjaya on 19.14 with No comments
Hidup memang senantiasa penuh kompetisi. Di dunia bisnis, fokus kompetisi adalah menghasilkan kualitas terbaik, memenangkan tender-tender bergengsi, juga memenangkan loyalitas pelanggan. Kompetisi juga jelas terlihat, di dunia pendidikan, politik, ekonomi, misalnya, dengan ditampilkannya peringkat daya saing bangsa, survei popularitas pejabat, indeks korupsi lembaga, dan lain-lain. Kita seringkali kecut bila mendengar berita “kekalahan”, baik itu kalahnya tim sepakbola, turunnya angka daya saing tenaga kerja, atau turunnya nilai ekspor handicraft. Sungguh berbeda rasanya saat kita mendengar berita kemenangan, seperti kemenangan Indonesia dalam ajang Sea Games yang baru lalu. Kita seolah lega dan otomatis berteriak bangga “Kita Bisa!”.
Seminggu lalu, saya mendengar dari teman saya, Susbandono, mengenai beberapa putra Indonesia yang berprestasi dalam ajang kompetisi fisika tingkat dunia, WOPHO (Word Physics Olympiad), yaitu Dr Oki Gunawan, Christian Emor, dan Evan Laksono. Edwin Tanin yang masih SMA pun, meraih medali emas pembuat soal eksperimen, padahal pemenang untuk soal-soal sejenis ini biasanya adalah profesor atau S3 yang sudah mumpuni di bidang fisika. Bukankah hal-hal seperti ini sungguh membanggakan?

Kompetisi yang kita hadapi semestinya membuat kita bisa mengembangkan mental juara, dan bukan sebaliknya menumbuhkan pesimisme. Bagaimana dengan kompetisi pemilihan karyawan terbaik? Ada anggapan kompetisi semacam ini dinilai tidak “bergigi”, bahkan sifatnya seolah bergilir seperti arisan. Kita memang tidak bisa berpikir sempit dan melihat kompetisi sebagai sebuah ajang pendek, karena ia sesungguhnya berlangsung terus dari hari ke hari, dan merupakan penggerak pertumbuhan, baik itu individu, tim, bahkan organisasi.
Di ruang pelatihan atlet olimpiade di Amerika, tertera tulisan di tiap pintu, loker, bahkan area bilas pemain: “Not Every Four Years: EVERYDAY”. Tulisan sederhana ini dimaksudkan untuk mengingatkan bahwa “excellence” datang dari latihan dan penguasan sehari-hari, bukan pada saat saat menjelang pertandingan saja. Inilah yang ingin ditumbuhkan oleh perusahaan dan berbagai kompetisi seperti “employee of the year”. Tentunya perusahaan ingin agar karyawan mempunyai naluri “fight” yang tumbuh dari kompetisi semacam ini, sekaligus melatih kita fokus pada pengembangan diri, dan menyuburkan mentalitas juara sepanjang waktu.

Di mana garis finish Anda?
Beberapa orang, bila ditanya mengenai apa sasaran karier atau bahkan sasaran hidupnya, tidak bisa menjawab dengan segera. Banyak pula pejabat senior di perusahaan yang tidak bisa dengan gamblang menceriterakan kapan dan bagaimana kelanjutan karier atau perkembangan perusahaan berdasarkan pengetahuannya. Sangat berbeda bila orang terbiasa dengan kompetisi dan terasah memiliki mentalitas juara. Kompetisi membantu perusahaan mendorong karyawan berdiskusi, berkomunikasi, dan menyusun sasarannya dengan lebih jelas. Kompetisi bisa bermanfaat untuk membantu individu melihat sasaran ke depan sebagai sesuatu garis finish sementara, atau batu loncatan. Adanya persaingan, otomatis membuat individu memikirkan kekuatan dan area pengembangan dirinya, sekaligus mendorong ia membayangkan peluang-peluang untuk sukses.

Manusia memang pada dasarnya berorientasi pada sasaran. Otak kita bekerja untuk mencari solusi, setiap kita mempunyai sasaran. Keinginan individu untuk mempunyai penghasilan akan membuat ia melamar pekerjaan. Pertanyaannya, apakah kita biasa memperjelas sasaran dan membuat standar yang tinggi? Apakah kita terbiasa melakukan evaluasi dan melecut diri untuk terus memikirkan pengembangan diri? Bila kita memiliki sasaran tinggi, otomatis kita juga jadi biasa berlari. Sasaran yang sedang-sedang saja membuat individu pun tidak bersemangat. Itu sebabnya pimpinan perlu juga terus mendorong individu untuk meletakkan sasaran-sasaran yang menantang. Kunci kesuksesan akan terletak pada “the will to win”, yang harus diasah setiap hari sehingga individu mempersiapkan diri untuk meraih sukses dari waktu ke waktu. Keinginan untuk menang hanya bisa dipelihara bila individu memang terus memperbaiki fokus dan konsentrasinya dalam pekerjaan sehari-hari. Jadi, setiap orang bisa jadi juara.

Bertanding sebagai gaya hidup
Kita tidak bisa menutup mata bahwa memang banyak orang menumbuhkan sikap pesimis akut karena melihat kegagalan, dan kecewa terhadap situasi yang ada di masyarakat atau pemerintahan. Bahayanya, sikap pesimis ini bisa terbawa juga ke tempat kerja. Bayangkan apa jadinya bila di tempat kerja kita tidak mempunyai sikap optimis untuk berprestasi dan berkontribusi? Apa jadinya bila setiap inisiatif atau program kerja baru senantiasa disikapi dengan sinis dan skeptis? Sikap pesimis sudah pasti membuat kita menularkan kemacetan dan semata membawa kita jalan di tempat. Bila kita peduli pada pengembangan diri dan pertumbuhan perusahaan, jalan terbaiknya adalah mengadopsi mental juara, memandang kompetisi sebagai gaya hidup yang memicu adrenalin dan gairah untuk berprestasi. Big results setidaknya sudah musti ada di pikiran kita dulu.

Kita tahu bahwa keluarga perenang, Nasution, berlatih setiap subuh, sore, dan malam, sehingga bisa mencatat prestasi mengesankan di ajang internasional. Kita tidak bisa hanya menjadi penonton, dan tidak bergerak mengadaptasi kebiasaan-kebiasaan juara. Bila ingin menjadi pelari marathon, maka kita mesti mengadaptasi kebiasaan pelari marathon. Bila ingin menjadi penulis, maka habit penulis harus menjadi habit kita. Bila ingin jadi pemenang, maka habit pemenang sudah harus kita jalankan. Jangan lupa bahwa “Your choices create your outcomes. Your habits create your outcomes”.
Mental juara adalah efek kumulatif dari “setting” dan “achieving” sasaran kerja sehari-hari, dan tidak mentolerir standar kerja yang rendah. Individu di lingkungan yang kompetitif sudah biasa mengukur kemampuan, selalu percaya diri, dan biasa jatuh bangun dalam pencapaian sasaran. Mentalnya bukan mental “Let it Happen”, tetapi “Make it Happen”. Selamat Berkompetisi!
sumber:kompas.com

2/21/2013

Ular Dan Emas

Posted by Jay Wyjaya on 07.57 with 1 comment
Dahulu kala ada seorang seorang petani miskin yang mesti berjuang keras untuk memajukan hidupnya. Namun meskipun ia bekerja dan berhati-hati dalam melakukan pengeluaran,ia tetap saja tak mampu menyisihkan penghasilan utuk ditabung.

Suatu malam, dalam tidurnya ia bermimpi ada suara yang berkata  "Jika ada sesuatu di dunia ini yang begitu sulit untuk kamu dapatkan, maka suatu waktu hal itu akan muncul begitu saja di hadapanmu." Dan petani inipun terbangun dari tidurnya. Dia kemudian berharap bahwa ketika ia bangun di suatu pagi, ia akan menemukan harta yang berlimpah di rumahnya sendiri. Dengan begini, tidak diragukan lagi bahwa kekayaan itu memang dimaksudkan untuknya.



Beberapa hari berlalu, ketika ia sedang dalam perjalanan, bajunya tersangkut pada semak-semak berduri yang tumbuh di sekitar ladang, Tak ingin kejadian yang sama terulang, dia pun bermaksud membabat habis semak belukar itu. Namun ketika ia mencabut akar dari semak itu, di bawahnya ia menemukan sebuah kendi. Dibukanya tutup kendi itu, dan alangkah kagetnya si petani ketika mengetahui bahwa di dalam berisi begitu banyak kepingan emas. Pada mulanya hati petani miskin ini berteriak girang, namun setelah beberapa menit berpikir, ia kemudian berkata: "Oh aku memang ingin sekali menjadi kaya. Tapi aku telah meminta agar harta itu muncul di gubuk kecilku, akan tetapi aku justru menemukannya di ladang ini. Oleh karenanya aku takkan mengambil kendi ini berisi emas. Kendi ini tidak ditakdirkan untukku."

Lalu petani itu pun meninggalkan kendi di tempat ia menemukannya dan kembali berjalan pulang. Sesampainya di rumah ia pun menceritakan penemuannya kepada istrinya. Istrinya pun marah besar atas kebodohan sang suami meninggalkan harta itu di ladang. Dan ketika si petani tidur, istrinya pun pergi ke rumah tetangga dan mengatakan segalanya. "suami saya yang begitu bodohnya justru meninggalkan harta itu di ladang dan bukan membawanya pulang. Pergi dan ambillah harta itu untukmu dan bagilah denganku."

Tetangga itu pun sangat senang dengan saran ini, dan tak menunggu lama ia pun menuju ke tempat yang dimaksud oleh istri petani. Disibaknya semak-semak belukar, dan ia memang menemukan kendi itu masih berada disana. Diangkatnya dan ditengoknya ke dalam kendi itu. Namun alangkah panik dan marahnya ia ketika melihat bahwa kendi itu ternyata tidak berisikan kepingan emas seperti yang diceritakan oleh istri petani melainkan penuh dengan ular berbisa.

"Perempuan licik. Dia pasti hendak menjebakku. Dia berharap aku memasukkan tanganku ke dalam hingga aku digigit dan mati keracunan oleh bisa ular." pikirnya marah.

Jadi iapun kembali menutup kendi itu dan membawanya pulang. Dan pada saat tengah malam tiba, dengan diam-diam dia mendatangi rumah petani miskin tetangganya. Dia melihat sebuah jendela yang terbuka. Dengan sigap dipanjatinya. Dikeluarkannya ular-ular berbisa itu dari dalam kendi, dan iapun kembali pulang.

Ketika fajar tiba, petani miskin yang pertama kali menemukan kendi tersebut, bangun untuk memulai hari. Ketika ia berjalan ke dapur untuk mengambil segelas air, dilihatnya setumpuk koin emas berhamburan di bawah jendela rumahnya. Dalam hati ia mengucap rasa syukur sembari berkata: "Akhirnya aku bisa menerima kekayaan ini, mengetahui bahwa mereka pasti ditujukan untukku, karena mereka muncul di rumahku sendiri, seperti yang aku harapkan!"

***

Pelajaran apa yang dapat kita petik dari cerita dongeng diatas?
Tentu saja bukan tentang mimpi si petani dimana harta itu tiba-tiba akan datang dengan sendirinya.
Tidak bukan itu.

Tapi pelajaran tentang bagaimana kita ini manusia haruslah pandai-pandai dalam melihat dan mencermati sebuah kesempatan yang ada. Namun telaahlah saat kita mengambil kesempatan itu sendiri, jangan sampai apa yang kita ambil itu merupakan hak milik orang lain. Seperti misalnya si petani miskin yang menolak mengambil kendi berisi emas saat ia menemukannya di ladang. Dia dapat melihat itu memang merupakan sebuah kesempatan, tapi dia merasa kesempatan itu memang belum diperuntukkan untuknya. Dia menemukan emas itu di ladangnya, bisa saja emas itu milik orang lain.

Memang ada sebuah pepatah 'siapa cepat dia yang dapat', tapi apakah anda bisa hidup bahagia dengan bersenang-senang di atas derita orang lain?

Namun pada saat kesempatan itu telah datang, dan anda yakin kesempatan itu memang diperuntukkan untuk anda, maka jangan tunggu lagi. Segera raihlah kesempatan itu.

Oleh karenanya, selalu bukalah mata anda. Tengoklah sekeliling anda, kesempatan itu mungkin kini ada di depan anda hanya saja anda kurang melihatnya. :)
Beberapa dari anda pasti merengek dan mengeluh tentang pekerjaan atau keadaan hidup anda. Tetapi anda sendiri tidak mengambil tindakan yang diperlukan untuk mengubah hidup anda. Anda tidak bisa berharap untuk mencapai tujuan2 yang baru dengan tindakan yang sama.

Untuk itu anda harus menetapkan langkah dan menciptakan hal-hal baru demi perubahan yang anda harapkan. Jika Anda ingin bergerak melampaui keadaan Anda sekarang, anda harus mengambil tiga hal berikut: dukungan, akuntabilitas dan fokus action inspirasi.

1. Dukungan
Mengapa dukungan begitu penting? Jika Anda bisa melakukannya sendiri, Anda harus membuat perubahan yang diperlukan itu. Bila anda memilih sebagai seorang mentor atau pelatih, dukungan sangat penting bagi keberhasilan Anda. Sebagai contoh, saya sangat membutuhkan seorang mentor, tapi saya tahu fakta bahwa saya tidak mendapatkan dukungan dari mentor saya, sehingga saya tidak bisa meneruskan langkah dalam bisnis saya atau hidup saya. Memiliki dukungan yang tepat menantang anda untuk berpikir lebih besar tentang diri anda. Tantangan membuat anda mengambil sesuatu yang lebih besar, tindakan berani, dan akhirnya melontarkan diri anda ke tingkat keberhasilan anda berikutnya. Inilah yang saya maksud dengan menciptakan lingkungan untuk keberhasilan mengambil tempat.

2. Akuntabilitas
Mengapa akuntabilitas begitu penting? Sekali lagi, jika Anda bisa melakukannya sendiri, berarti anda sudah melakukannya. Misalnya, saya memiliki tujuan untuk menciptakan produk baru pada bulan depan, dan produk itu akan bisa selesai minggu ini atau dalam waktu dekat. Saya juga memiliki komitmen untuk menyelesaikan buku saya pada bulan-bulan selanjutnya. Bisakah saya melakukannya sendiri? Tentu saja saya bisa, tapi kalau saya tidak punya pelatih dan editor saya akan menunda dan membuat alasan karenanya. Akuntabilitas membuat anda menyabotase diri anda sendiri. Berada di sana, melakukannya, dan mendapat apa yang anda inginkan.

3. Fokus, Action Inspirasi
Mengapa fokus, action inspirasi? Ada perbedaan antara menjadi sibuk, dan mengambil tindakan yang terilhami (terinspirasi). Untuk mengambil tindakan terinspirasi, anda harus terlebih dahulu mempunyai visi jelas tentang apa yang menjadi tujuan anda. Jika anda tidak tahu di mana anda akan pergi maka anda tidak bisa sampai di sana, dan anda pasti tidak dapat mengambil sesuatu disana. Kebanyakan orang benar-benar sibuk sepanjang harinya, tetapi apakah kesibukan itu untuk melakukan sesuatu hal-hal yang penting? Sebagai pengingat untuk memotivasi diri sendiri, “Apakah yang saya kerjakan saat ini membuat saya lebih dekat ke tujuan saya? Jika tidak, segera berhenti melakukan hal itu.”
Apakah anda sudah mengambil tindakan? Pepatah lama mengatakan: “Jika Anda tidak menyukai keadaan sekarang, maka perubahan apa yang Anda lakukan.”

Poin-Poin Penting (P3)
1.      “Apakah yang saya kerjakan saat ini membuat saya lebih dekat ke tujuan saya? Jika tidak, segera berhenti melakukan hal itu.”
2.      “Apakah anda sudah mengambil tindakan?”
3.      “Jika Anda tidak menyukai keadaan sekarang, maka perubahan apa yang Anda lakukan.”

2/14/2013

7 Sikap Buruk Seorang Karyawan

Posted by Jay Wyjaya on 07.06 with No comments
sorang karyawan harus dituntut untuk  bisa bekerja semaximal mungkin. tapi bagaimana seandainya kalau mereka tidak mampu melakukannya? pastilah jawabannya adalah di pecat. nah berikut ini adalah kebiasaan-kebiasaan yang perlu dihindari sebagai seorang karyawan. semoga bisa menjadi masukan yang bermanfaat bagi anda, sehingga kita semua bisa menjadi karyawan yang profesional atau memiliki karyawan yang profesional 
  1. NMJ ( Not My Job), Tipe pegawai macam ini selalu pintar menghindari tugas, alasannya itu bukan tugas saya
  2. NMM (Need More Money), Selalu menganggap gajinya belum setimpal dengan pekerjaannya, tidak mau mengakui meski perusahaan sudah memberikan jaminan dan kesejahteraan yang mencukupi.
  3. WCT ( Wastes Company Time), Membuang jam kerja dengan aktivitas yang merugikan perusahaan. Berlama- lama di internet, keluar kantor untuk urusan pribadi, mengobrol, melamun dsb.
  4. NMH ( Needs More Help), Merasa pekerjaan nya selalu over load, meski sebagian sudah di transper ke pegawai lain, tetap saja tugasnya tak pernah beres.
  5. ACD (Always Complaining and Disagreeable), Selalu mengeluh dan bersikap tidak menyenangkan.baginya setiap hari adalah penderitaan dan pekerjaan adalah sebuah siksaan
  6. CWS (Clock Watcher’s Syndrome), Selalu rajin menengok jam khususnya sore hari mendekati jam- jam kerja berakhir. Biasanya setelah makan siang tidak banyak pekerjaan yang di kerjakannya kecuali menunggu saatnya pulang
  7. TTM ( TheTrouble Maker), Dengan alas an khilaf, lupa, molor, tidak tahu, kurang teliti,dsb.pekerjaan seluruh team yang sudah hampir selesai tiba- tiba terlambat. Orang macam ini menjadi benalu dalam team.